Di balik lebatnya hutan mangrove Setokok, ada sosok yang tanpa lelah merawat akar-akar kehidupan itu agar tetap tumbuh, kuat, dan memberi napas bagi bumi pesisir Batam. Namanya Rabu.
Ia bukan hanya aktivis lingkungan, tetapi juga pendidik, pemikir, sekaligus penggerak yang tak kenal lelah menyuarakan pentingnya pelestarian alam.
Rabu adalah warga asli Pulau Akar, Kota Batam. Di sela-sela kesibukannya sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Riau Kepulauan (Unrika), ia terus aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan, khususnya melalui kawasan konservasi Ekowisata Mangrove Presiden.
Bagi Rabu, pelestarian lingkungan bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan sebuah gerakan panjang yang perlu ditopang oleh pendidikan. Itulah sebabnya ia menyatukan dua dunia yang ia cintai: konservasi dan edukasi.
Di lapangan, Rabu sering turun langsung, mengajarkan cara menanam, membersihkan kawasan pesisir, hingga memandu kelompok pelajar dan mahasiswa dalam belajar langsung tentang ekosistem mangrove. Ia meyakini bahwa perubahan besar berakar dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dan kolektif.
Lewat Ekowisata Mangrove Presiden, Rabu menjadi motor penggerak yang menyatukan warga, akademisi, dan pegiat lingkungan. Ia kerap menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan kearifan lokal, menjadikan konservasi bukan hanya tugas para ahli, tetapi juga tanggung jawab bersama.
