SEBANYAK 60 pemuda dari 11 negara Asia Tenggara berpartisipasi dalam penanaman mangrove di Ekowisata Mangrove Presiden, Setokok, Kota Batam, Rabu, 23 April 2025. Kegiatan ini bagian dari Lokakarya Regional Ekonomi Biru, program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS).
Meski gerimis, para peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Timor Leste tetap semangat. Mereka antusias mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari diskusi interaktif, pembibitan, hingga penanaman mangrove.
Pemilihan Mangrove Presiden Batam sebagai lokasi lokakarya bukan tanpa alasan. Kawasan ini sukses mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Pejabat Diplomasi Publik Kedutaan Besar AS, Mary K. Trechock menyampaikan, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kedubes AS di Indonesia dan Singapura. Tujuannya untuk mendorong pemuda regional menjadi agen perubahan dalam konservasi laut dan pesisir.
“Para peserta belajar bagaimana mangrove bisa mendukung ekonomi masyarakat, mulai dari bahan makanan, tekstil, hingga perikanan. Mereka juga belajar bagaimana melestarikan lingkungan secara praktis,” ujar Mary.
Menurut Mary, lokakarya ini tidak hanya berfokus pada pelestarian, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan untuk merancang strategi yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan perlindungan ekosistem.
Dari Kawasan Kumuh Menjadi Destinasi Edukasi
Tiga pengelola ekowisata mangrove lokal turut hadir dalam sesi berbagi inspirasi, yaitu Rabu (Mangrove Presiden Setokok), Gari Dafit Semet (Mangrove Pandang Tak Jemu), dan Lejar (Rumah Bakau Indah – RBI).
Prabu mengaku bangga Setokok menjadi tempat belajar bagi pemuda dari berbagai negara. “Ini bukti bahwa kampung kami punya kontribusi besar untuk dunia, lewat mangrove,” ungkapnya.
Gari menambahkan bahwa kawasan mangrove mampu mengubah wajah desa dari kumuh menjadi desa wisata hijau yang produktif secara ekonomi.
“Dari kerajinan tangan hingga kuliner lokal, semua bisa berkembang dengan mangrove sebagai fondasi,” jelas Gari.
Sementara Lejar menekankan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Ia menyebut, keterlibatan internasional menjadi dorongan moral yang besar bagi komunitas lokal.
“Menjaga mangrove memang berat, tapi dengan semangat kolaborasi ini, saya optimis,” katanya.
Dari Dapur Arang Menjadi Pusat Edukasi
Sebelum direhabilitasi, kawasan Mangrove Presiden dikenal sebagai area penebangan liar dan dapur arang terbesar di Batam. Namun sejak 2021, berkat program restorasi dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan BPDAS Sei Jang Duriangkang, kawasan ini bertransformasi menjadi destinasi ekowisata edukatif dan konservatif.
Presiden Joko Widodo sendiri pernah menanam mangrove di lokasi ini pada 28 September 2021, menandai komitmen nasional terhadap pelestarian pesisir.
Kini, Mangrove Presiden Batam menjadi ruang belajar terbuka, lengkap dengan fasilitas edukasi, kuliner lokal, dan pelatihan lingkungan bagi pelajar serta mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
“Kami membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar tentang konservasi dan ekonomi biru,” ujar Suardi, Ketua LSM Peduli Lingkungan Hidup dan Kelautan Kepri sekaligus pengelola Mangrove Presiden.

