Tiga pohon mangrove berdiri tegak di pesisir Pantai Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam. Mereka tampak biasa saja—kecil, muda, dan batang yang tipis.
Namun, siapa sangka, ketiga pohon mangrove itu ditanam langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam kunjungan bersejarah di Batam pada 28 September 2021. Sejak saat itu, warga Setokok menjaga mangrove-mangrove itu bak pusaka: dipagar, dirawat, dan dipantau agar tetap hidup.
Sembilan bulan berselang, tepatnya Sabtu, 16 Juli 2022, jejak sejarah itu kembali disapa oleh pejabat negara. Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Alue Dohong, datang langsung ke lokasi, ingin melihat sendiri kondisi mangrove yang ditanam presiden. Menemani langkahnya di tanah berlumpur itu, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad, turun langsung menyambut.
Suasana di pesisir sore itu begitu hangat. Masyarakat Setokok telah berkumpul sejak siang, menyambut kehadiran dua tokoh penting itu. Hadir pula Suardi, Ketua DPP LSM Peduli Lingkungan Hidup dan Kelautan (PLHK) Kepri, yang dikenal sebagai penggerak utama konservasi mangrove di wilayah hinterland Batam.
Jejak Presiden, Semangat Warga
Presiden mungkin sudah tak berkunjung lagi, namun semangat yang ia tinggalkan di Setokok tetap menyala. “Warga memasang pagar kayu mengelilingi tiga pohon yang ditanam Presiden. Ini bukan soal siapa yang menanam, tapi tentang rasa memiliki,” kata Suardi.
Bagi masyarakat, pohon-pohon itu adalah simbol: bahwa daerah mereka bukan kawasan pinggiran, melainkan bagian dari peta nasional yang harus dirawat.
Gubernur Ansar Ahmad menegaskan dukungan penuh terhadap upaya masyarakat menjaga kawasan pesisir. “Selagi ada keinginan serius dari masyarakat, pemerintah pasti akan hadir,” ujarnya.
Ia pun menekankan pentingnya peran hutan mangrove, bukan hanya untuk menahan abrasi, tapi juga sebagai benteng pengurang emisi karbon dan tempat hidup bagi berbagai keanekaragaman hayati.
Setokok Menuju Kampung Wisata Mangrove
Momentum ini tidak hanya digunakan untuk sidak simbolik. Suardi mengungkapkan rencana besar: menjadikan Setokok sebagai Kampung Wisata Terpadu dan Taman Wisata Mangrove. Dalam konsep itu, akan dibangun jembatan edukatif yang memungkinkan pengunjung berjalan menyusuri jantung hutan mangrove.
“Kita ingin konservasi, edukasi, dan rekreasi bisa berjalan berdampingan. Mangrove bukan hanya ditanam untuk disembah, tapi untuk dirasakan manfaatnya,” ujar Suardi penuh semangat.
Rencana itu disambut baik oleh Gubernur Ansar. Ia berjanji akan membantu kelancaran proses perizinan, perencanaan, hingga pembangunan sesuai harapan masyarakat.
Bukan hanya wacana. Suardi dan jaringannya dari DPP LSM PLH-K telah menyemai lebih dari 800.000 bibit mangrove di seluruh pesisir dan hinterland Kota Batam. Ini adalah hasil kerja senyap kelompok masyarakat binaan—bukan proyek besar, tapi hasil kolaborasi nyata.
Suardi membuka pintu kolaborasi dengan semua pihak. Ia mengajak lembaga pemerintahan, swasta, perguruan tinggi, hingga korporasi untuk bersinergi dalam menjaga dan merehabilitasi hutan mangrove melalui program CSR atau pendampingan komunitas.
“Jangan hanya bicara perubahan iklim di seminar. Ayo, turun ke lumpur, tanam, dan rawat mangrove bersama kami,” pungkas Suardi. ***
Baca juga: Dari Setokok untuk Bumi, Ribuan Mangrove Ditanam Warga di Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Baca juga: Harapan dari Pesisir Setokok, Menjadikan Jejak Presiden sebagai Ekowisata Mangrove

