Mangrove adalah jenis tumbuhan tropis yang tumbuh subur di wilayah pesisir, khususnya pada daerah yang mengalami pasang surut air laut. Karena kemampuannya beradaptasi di lingkungan asin, sebagian kayu mangrove pun bersifat tahan garam.
Selain sebagai bagian penting dari ekosistem pesisir, mangrove juga memiliki kapasitas besar dalam menyerap dan menyimpan karbon, menjadikannya alat penting dalam upaya melawan perubahan iklim.
Mangrove tidak hanya menyerap karbon, tetapi juga menjadi habitat penting bagi banyak jenis ikan, kerang, udang, dan biota laut lainnya. Akar mangrove yang kokoh membantu menyaring nutrien, menahan gelombang, menyaring sedimen serta material tersuspensi, dan mencegah abrasi serta erosi pantai.
Selain itu, ekosistem mangrove berkontribusi besar dalam menjaga kualitas air dan kesehatan ekosistem sekitar, termasuk terumbu karang. Namun, ekosistem ini tergolong rentan terhadap kerusakan, baik karena aktivitas manusia maupun perubahan lingkungan.
Baca juga: Mangrove Batam dalam Darurat Ekologis: Suardi: Dari Setokok, Gerakan Pelestarian Terus Dimulai
Tantangan Tata Kelola Mangrove di Indonesia
Salah satu persoalan utama dalam pengelolaan mangrove di Indonesia adalah ketidaksesuaian data luas dan laju kerusakan antar instansi dan lembaga, yang dapat membingungkan proses perencanaan konservasi.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional (PMN) yang dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 13 Oktober 2021, total luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 4.120.263 hektare. Rinciannya, mangrove existing sekitar 3.364.080 hektare dan potensi habitat mangrove 756.183 hektare.
Dari luas tersebut, sekitar 637.624 hektare atau hampir 19% berada dalam kondisi kritis dan memerlukan rehabilitasi segera. Menurut Saimorsa et al. (2024), hilangnya hutan mangrove membawa dampak serius dari berbagai sisi—fisik, kimia, biologi, hingga sosial ekonomi.
Baca juga: Pemuda dari 11 Negara Tanam Bakau di Mangrove Presiden Batam
Secara fisik, suhu permukaan meningkat akibat hilangnya kanopi daun yang biasanya menghalangi sinar matahari langsung. Angin laut yang sebelumnya tertahan oleh hutan mangrove kini dapat menerjang daratan tanpa hambatan, menyebabkan kerusakan bangunan dan pemukiman di pesisir.
Secara kimia, kerusakan mangrove mengurangi kapasitas ekosistem dalam menyerap karbon dioksida—gas rumah kaca utama yang menyebabkan perubahan iklim. Padahal, mangrove menyimpan karbon lebih banyak daripada hutan hujan atau lahan gambut.
Secara biologis, mangrove merupakan sumber hara melalui dekomposisi daun yang menjadi makanan bagi biota air. Ekosistem ini juga penting bagi keberlangsungan berbagai spesies, termasuk ikan dan udang yang bernilai ekonomi.
Secara sosial ekonomi, kerusakan mangrove berarti hilangnya sumber pendapatan masyarakat, baik dari hasil hutan (kayu, daun, getah, buah) maupun sektor perikanan. Juga mengancam ketersediaan indukan ikan sehat (genetic pool) yang dibutuhkan industri perikanan berkelanjutan.
Upaya Pelestarian Mangrove
Mangrove yang tumbuh di muara sungai berfungsi sebagai penyaring alami limbah industri dan domestik. Limbah padat dan cair yang terbawa aliran sungai akan mengendap di wilayah hutan mangrove. Namun, bila kapasitas penyaringan alami terlampaui, pencemaran pun tak terhindarkan.
Menurut Sari et al. (2021), mangrove sebenarnya dapat memulihkan diri secara alami dalam 15–20 tahun. Meski begitu, proses tersebut perlu dibantu melalui berbagai upaya konservasi, di antaranya:
- Rehabilitasi dan penanaman kembali mangrove
- Pengaturan tata ruang wilayah pesisir dan pemukiman
- Edukasi masyarakat untuk menjaga mangrove secara bertanggung jawab
- Izin usaha yang berbasis konservasi
- Penerapan kearifan lokal dalam pengelolaan ekosistem
- Peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir
- Penegakan hukum lingkungan
- Perbaikan ekosistem pesisir secara terpadu dan partisipatif
Hutan mangrove memiliki peran sangat besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, melindungi masyarakat dari bencana, hingga mengurangi emisi karbon global. Untuk itu, upaya pelestarian dan pemulihan mangrove harus menjadi agenda bersama, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat dan sektor industri. ***

