Setokok, Kec. Bulang, Kota Batam, Kepri

Pesisir Setokok di Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), kini berubah wajah. Kawasan yang dulunya tandus dan rusak akibat penebangan liar, kini hijau kembali—berkat upaya pelestarian lingkungan yang bertransformasi menjadi ekowisata berkelanjutan.

Kawasan ini dikenal dengan nama Ekowisata Mangrove Presiden, dinamai demikian karena kawasan ini pernah menjadi lokasi penanaman pohon mangrove oleh Presiden Joko Widodo.

Tak hanya menyelamatkan lingkungan pesisir dari abrasi, kawasan ini juga menjadi sumber penghidupan baru bagi warga sekitar. Wisata mangrove kini menjadi salah satu daya tarik baru Kota Batam yang menawarkan harmoni antara konservasi dan ekonomi.

Baca juga: Pemuda dari 11 Negara Tanam Bakau di Mangrove Presiden Batam

Bermula dari Tekad Seorang Warga

Semua bermula dari tekad seorang warga bernama Suardi, Ketua Kelompok Setokok Mandiri. Ia memulai gerakan penghijauan ini dengan menanam mangrove bersama keluarganya. Kala itu, tidak mudah menyadarkan warga akan pentingnya keberadaan hutan mangrove.

“Awalnya saya dan keluarga yang tanam. Warga belum tertarik, karena belum terlihat manfaat ekonomi,” kenang Suardi pada Jumat, 11 Juli 2025.

Namun seiring waktu, setelah edukasi terus dilakukan dan kawasan ini mendapat perhatian nasional—termasuk kunjungan Presiden—kesadaran masyarakat mulai tumbuh. Kini, kawasan tersebut telah menjadi destinasi ekowisata yang tidak hanya lestari, tetapi juga produktif.

Baca juga: PLHK Kepri Tanam 5.000 Mangrove Bersama Warga Setokok Usai Upacara HUT ke-77 RI

Ekosistem Kembali Hidup

Kawasan Ekowisata Mangrove Presiden kini menyuguhkan pemandangan memukau: hamparan hutan bakau yang hijau, pasir pantai yang putih, dan langit biru yang membentang.

Jenis mangrove yang tumbuh di sini cukup beragam, bergantung pada kondisi alam seperti salinitas, jenis tanah, dan pasang surut air laut. Di antaranya ada Rhizophora mucronata, Avicennia marina, dan Rhizophora stylosa.

Mangrove ini biasanya tumbuh dalam formasi zonasi sesuai tingkat genangan air laut. Namun, dalam praktiknya, jenis-jenis mangrove ini sering tumpang tindih, tergantung pada kondisi lokal masing-masing daerah.

Kini, Ekowisata Mangrove Presiden bukan hanya tempat rehabilitasi lingkungan, tapi juga ruang edukasi dan rekreasi. Wisatawan dapat menjelajahi jembatan kayu yang membelah hutan mangrove, belajar mengenal berbagai spesies bakau, hingga ikut menanam bibit mangrove sebagai bentuk kepedulian lingkungan.

Kawasan ini juga menjadi contoh bagaimana upaya konservasi dapat menghidupkan perekonomian lokal. Warga terlibat aktif sebagai pemandu wisata, pengelola fasilitas, dan penyedia kuliner lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *