Setokok, Kec. Bulang, Kota Batam, Kepri

Kawasan Ekowisata Mangrove Presiden di Kampung Sungai Besar, Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam, menjadi pusat aktivitas wisata alam yang menggabungkan keindahan ekosistem mangrove dengan semangat pelestarian lingkungan serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Ekowisata ini dikelola oleh Kelompok Setokok Mandiri Kota Batam, yang terdiri dari unsur organisasi non-pemerintah, pecinta alam, jurnalis, hingga aktivis lingkungan. Mereka berperan aktif menjaga keberlanjutan kawasan dan mengembangkan potensi wisata berbasis lingkungan.

Pengelolaan kawasan ekowisata ini berdasarkan izin Pengelolaan Kawasan Hutan Lindung Mangrove seluas 56 hektare, melalui skema Perhutanan Sosial Hutan Kemasyarakatan (PS HKm) sesuai SK Nomor SK.5221/MENLHK-PSKL/P-KPS/PSLO/5/2023.

Pengembangan ekowisata ini tidak hanya bertujuan untuk konservasi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pengelola HKm serta menjadi sumber pembiayaan mandiri bagi pelestarian ekosistem mangrove.

Hutan mangrove ini dipertahankan sebagai benteng bagi kelangsungan hidup flora fauna asli masyarakat nelayan. Selain untuk melindungi flora dan fauna yang ada, area ini juga menjadi pusat pendidikan konservasi lahan basah dan ekowisata.

Konsep Edukasi dan Pemberdayaan

Konsep wisata di kawasan ini mengusung prinsip edukasi, konservasi, dan rekreasi. Wisatawan dapat menikmati keindahan hutan bakau, sambil belajar tentang pentingnya mangrove sebagai benteng alami pesisir. Selain itu, tersedia aktivitas wisata kuliner, kerajinan tangan lokal, serta informasi center mangrove yang menjadi pusat edukasi dan pembelajaran lingkungan.

Kawasan ini juga mengakomodasi kearifan lokal yang menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem mangrove dan menyatukan aspek sosial, budaya, ekonomi, serta pendidikan dalam satu harmoni.

Jejak Presiden Jokowi dan Kawasan Terpadu

Nama “Mangrove Presiden” disematkan karena pada Selasa, 28 September 2021, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menanam langsung bibit mangrove di lahan seluas 15 hektare di lokasi ini. Momen tersebut menjadi simbol perhatian negara terhadap pelestarian mangrove, sekaligus mengukuhkan kawasan ini sebagai Kampung Wisata Mangrove Terpadu.

Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi yang mencakup wisata alam, bahari, perikanan, hingga pendidikan lingkungan hidup. Pengelola juga bersinergi dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dalam upaya restorasi kawasan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Ekowisata Mangrove Presiden bukan sekadar tempat berlibur, tapi juga ruang belajar dan contoh nyata bahwa pariwisata dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan, dengan masyarakat sebagai garda terdepan.

5 Fungsi Utama Ekowisata Mangrove Presiden

Berikut lima fungsi dari pengembangan Ekowisata Mangrove Presiden di Pantai Setokok, Kota Batam:

1. Edukasi: Sarana pembelajaran tentang pentingnya hutan bakau dalam menjaga ekosistem pesisir, mengenal berbagai jenis flora-fauna, serta ancaman kerusakan habitat.

2. Rekreasi: Menjelajahi keindahan alam di atas jembatan kayu yang membelah rimbunnya hutan mangrove.

3. Konservasi: Ikut serta dalam program penanaman mangrove sebagai bentuk kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan.

4. Kuliner: Surga kuliner pesisir, dengan beragam hidangan seperti kepiting, rajungan, dan ikan laut.

5. Kearifan Lokal: Atraksi budaya masyarakat pesisir Setokok, seperti tari persembahan, berpantun, silat, kompang, zikir barat, serta berbagai bentuk kesenian lokal lainnya.